Keripik Salak Pondoh Atasi Anjloknya Harga Salak

Salak pondoh merupakan buah-buahan khas Yogyakarta, khususnya dari Kabupaten Sleman. Jadi, pernyataan tidak pas ke Yogya jika tidak mencicipi salak pondoh terkadang benar adanya.

Salak pondoh yang rasanya manis dan mudah dikupas menjadi tanaman pokok banyak petani di Kabupaten Sleman. Namun, akhir-akhir ini, harga salak pondoh berfluktuasi cukup tajam. Terkadang sangat mahal, tetapi tidak jarang harganya anjlok ke titik terendah, hanya Rp 2.000 per kilogram. Sedangkan jika lagi mahal bisa mencapai Rp 7.000 per kilogram.

Keadaan ini sangat memprihatinkan petani salak pondoh yang jumlahnya mencapai ribuan orang. Apalagi salak pondoh kini banyak ditanam di wilayah lain dan hasilnya juga cukup baik.

Berawal dari kekhawatiran tersebut, Sutrisno bersama sejumlah petani salak lainnya yang tergabung dalam kelompok tani di Dusun Rejodadi Bangunkerto Turi, Sleman, kemudian mencoba mengembangkan keripik salak pondoh serta mengembangkan pula tanaman salak organik.

Kepada Pembaruan yang menemui di kediamannya, Sutrisno menceritakan keinginan tersebut terwujud dengan datangnya mesin bantuan dari Departemen Pertanian melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian senilai Rp 30 juta.

Sebelum merintis keripik salak, Sutrisno sejak tahun 1994 sudah mengembangkan sirup salak dan dodol salak. Namun, pembuatan biasanya hanya menjelang Lebaran ketika banyak pesanan dari keluarga untuk oleh-oleh kerabat yang mudik Lebaran.

Oleh karenanya, ia berusaha mencoba usaha lain dan mulai melirik membuat keripik salak. Apalagi ada penemuan dari sebuah perguruan tinggi swasta di Yogya bahwa keripik salak baik dan enak dijadikan keripik.

Selain bisa mendongkrak harga salak pondoh, keripik salak juga menjadi alternatif untuk memasarkan salak pondoh ke tempat yang relatif jauh dari Yogyakarta. Sebab, daya tahan keripik salak bisa mencapai satu tahun. Sementara salak pondoh segar paling lama satu minggu.

Produksi keripik salak dari Rejodadi bisa mencapai 20-23 kg/hari. Kalau dilihat hasilnya mungkin bisa dibilang sedikit. Namun, untuk membuat satu kilogram keripik sebenarnya berasal dari 10 kg salak segar.

Caranya pengolahannya, salak segar dikupas dibuang kulit dna bijinya. Setiap 10 kg salak segar akan menjadi 6 kg daging salak. Setelah di goreng dengan teknologi vacuum frying sekitar satu jam, daging salak tadi mengering dan berubah jadi keripik, yang beratnya menjadi satu sampai dua kilogram saja.

Salak segar yang hendak dijadikan keripik merupakan produksi para petani sekitar yang tergabung dalam kelompok tani yang kini jumlahnya mencapai 19 kelompok. Setiap kelompok bisa terdiri dari 500-an anggota yang menguasai sekitar 90 hektare lahan perkebunan salak pondoh.

Setelah matang, keripik salak tersebut dikemas dengan kemasan yang cukup baik dan dijual di pasaran, tidak hanya di Yogyakarta tetapi juga hampir ke seluruh Pulau Jawa.

Untuk pemasaran di wilayah Yogyakarta, setiap bulannya mencapai 8.000 pak atau 80 kg. Keripik yang dijual baru dengan ukuran berat 100 gram dengan harga antara Rp 10.000 – Rp 10.500 per kg atau bisa mencapai lebih Rp 100.000 per pak.

Bersemangat

Dengan adanya usaha keripik salak, petani di Turi menjadi lebih bersemangat karena ternyata hasilnya memang lebih menguntungkan dibanding hanya menjual buah segar. Hanya saja, mereka masih belum berproduksi lebih banyak karena kapasitas mesin terpasnag sangat terbatas. Namun, mereka berharap tahun-tahun mendatang kelompok tani ini bisa mendapatkan mesin baru lagi untuk pengembangan usaha.

Dari penjualan keripik salak pondoh, kelompok tani yang dipimpin Sutrisno bisa memperoleh pendapatan bersih per harinya sekitar Rp 250.000 dengan bahan baku 100 kg salak segar. Itu pendapatan bersih setelah dikurangi biaya tetap, seperti susut alat, sewa tempat, tenaga kerja, dan biaya prduksi seperti minyak goreng, gas, listrik, kemasan, dan sebagainya.

Tentu saja pendapatan tersebut akan sangat menguntungkan petani dibandingkan jika mereka menjual buah segar yang harganya berfluktuasi.

Selain berupaya meningkatkan produksi keripik salak, petani salak di Sleman kini berupaya keras mengembangkan salak pondoh organik. Ini mereka lakukan karena banyak konsumen yang menginginkan salak pondoh yang bebas dari bahan kimia sintetik, baik berupa pupuk maupun pestisida.

Ternyata, harga salak organik tersebut di pasaran sangat tinggi bisa mencapai Rp 10.000 per kilogram dan permintaan salak organik ini terus meningkat.

Banyak keunggulan salak pondok organik, kata Sutrisno. Antara lain, aman dikonsumsi tanpa residu pestisida dan pupuk kimia sintetik, higienis, lebih manis, dan mempunyai rasa alami. Salak jenis ini juga lebih tahan lama, tidak mudah busuk, kulit lebih mudah dikupas, dan mempunyai ukuran buah yang relatif lebih besar.

Sedangkan bagi lingkungan, sistem produksi sangat ramah lingkungan sehingga tidak merusak lingkungan, sebab tidak mencemari lingkungan dengan bahan kimia sintetik, meningkatkan produktivitas ekosistem pertanian secara alami, serta keseimbangan ekosistem terjaga dan berkelanjutan.

Bahkan akhir-akhir ini, para petani menjadi kewalahan dengan banyaknya pesanan. Dari Jakarta saja setiap minggu minta dikirimi sekitar 17 ton salak pondoh organik.

Untuk memenuhi permintaan pasar tersebut, para petani berupaya untuk lebih banyak membebaskan lahan mereka dari bahan-bahan kimia.

Namun tentu saja tidak mudah karena banyak petani yang tetap menggunakan bahan kimia untuk mempercepat produksi.

”Mengubah mental kembali ke hal-hal yang alami itu bukan main sulitnya. Tapi mudah-mudahan dengan pasaran yang makin baik ini akan membuka mata petani yang selama ini sangat bergantung pada bahan kimia,” ujar Sutrisno.

Sumber: Suara Pembaruan, Jumat, 28 Juni 2002

5 comments on “Keripik Salak Pondoh Atasi Anjloknya Harga Salak

  1. wow…terlihat spektakuler,,,
    maaf.bukan bermaksud menghiraukan.
    namun nyatanya kita membutuhkan sertifikasi bukan?
    khususnya jika ingin ekspor.
    dan kira2 menurut anda, apakah peran pemerintah sudah cukup baik???saya merasa kasihan dengan petani salak di banjaenegara.
    maaf jika ada yang menyinggung.saya masih belajar.terimakasih

  2. Salam kenal..
    Saya mahasiswa IPB, saya bisa gak magang diperusahaan pengolahan salak pondoh ini??Terima kasih.

  3. Boleh juga bisnis kripik salak.saya yg tinggal di daerah jakarta kayaknya belum pernah melihat penjual kripik salak.sepertinya peluang bisnis ini cukup menjanjikan.apalagi disaat krisis global.dimana orang2 lg pd bingun cari bisnis sampingan.salut untuk kripik salaknya!!

  4. Saya belum pernh meliht kripik salak,gmna bentuk nd rasax…
    Smga saja kripik salak ini tdk mngndng bahan kimia
    Kapan nih kripikx myebar dpare”

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s