Nila Selamatkan Hidup

nila.jpgUsaha budidaya perikanan sering kali dijauhi banyak orang. Perbankan pun masih belum tertarik mengucurkan kredit usaha karena usaha tersebut dianggap berisiko tinggi dan kurang prospektif. Akan tetapi, kenyataannya dari hari ke hari dugaan itu makin kelir

Usaha budidaya perikanan sering kali dijauhi banyak orang. Perbankan pun masih belum tertarik mengucurkan kredit usaha karena usaha tersebut dianggap berisiko tinggi dan kurang prospektif. Akan tetapi, kenyataannya dari hari ke hari dugaan itu makin keliru. Terbukti sedikit masyarakat mendulang sukses dari pergulatan mereka dengan usaha budidaya perikanan.

Hal tersebut dibuktikan Hadinoto (40), keseriusannya membudidayakan ikan nila dalam tujuh keramba sistem jaring apung pada Sungai Batanghari di Desa Pematang Jering, Kabupaten Mauro Jambi, sekitar 15 kilometer arah barat Jambi, mampu memberikan pendapatan bersih Rp 3,5 juta per bulan.

Saya tak pernah membayangkan hidup saya dan keluarga akan menjadi lebih baik. Beruntung, ada ikan nila yang bisa dibudidayakan dan diminati masyarakat, kata Hadinoto.

Ayah tiga anak itu memang bukan putra asli Jambi, tetapi dari Nganjuk, Jawa Timur. Dia merantau ke Jambi tahun 1989. Mulanya Hadinoto bekerja sebagai buruh di salah satu perusahaan pengolahan kayu. Upahnya rata-rata Rp 25.000 per hari. Akan tetapi, seiring dengan menyusutnya aktivitas di sektor kehutanan, suplai bahan baku ke industri pengolahan kayu merosot. Akibatnya, banyak pabrik pengolahan kayu yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Pada tahun 1995, Hadinoto pun menjadi salah satu korban PHK.

Hadinoto panik dan nyaris frustrasi. Hampir dua tahun dirinya tidak bekerja. Tebersit di otaknya untuk bekerja di Malaysia. Akan tetapi, niat itu diurungkannya dan akhirnya ia memilih menjadi pembudidaya ikan nila pada salah satu lokasi di tepi Sungai Batanghari.

Kebetulan saat itu permintaan ikan nila di Jambi tinggi, sedangkan pasokan terbatas. Tanpa pengetahuan yang cukup, dirinya nekat masuk ke sektor usaha budidaya nila, katanya.

Saat memulai budidaya, dirinya mengembangkan satu keramba jaring apung seluas 12 meter persegi. Benih yang ditebarkan lebih kurang 2.500 ekor. Lima bulan berikutnya ikan keramba itu dipanen hasilnya 500 kg. Hasil panennya itu langsung dibeli pedagang di lokasi pembudidayaan.

Sukses itu mendorong semangat Hadinoto melakukan ekspansi budidaya. Peluang itu semakin terbuka lebar karena lahan budidaya di tepi Sungai Batanghari masih terbuka lebar. Pada tahun 2000, Hadinoto meningkatkan jumlah keramba hingga menjadi tujuh keramba apung. Penebaran benih pun dilakukan secara bergilir, yakni setiap bulan sebanyak dua keramba. Harapannya mampu memproduksi ikan nila secara berkesinambungan.

Sistem ini membuat saya selalu memperoleh penghasilan tetap setiap bulan. Apalagi, dari setiap keramba, saya mendapatkan keuntungan ya paling tidak Rp 1 juta, ujar Hadinoto.

Terkendala Biaya

Ikan nila tergolong salah satu jenis ikan air tawar yang diminati masyarakat. Di Jambi, harga di tingkat pembudidaya rata-rata Rp 12.000 per kg dan di pasar setempat berkisar Rp 14.000-Rp 15.000 per kg.

Itu sebabnya minat masyarakat untuk membudidayakan ikan nila pun semakin tinggi, tetapi selalu terkendala pada biaya. Untuk memulai usaha itu dibutuhkan modal minimal Rp 5 juta. Meliputi ongkos pembuatan keramba dan pembelian jaring apung Rp 2,5 juta per unit. Biaya pengadaan bibit dan pakan sekitar Rp 3,5 juta per keramba. Pakan harus dibeli setiap minggu sebab ikan harus diberi makan setiap hari hingga dipanen saat berusia empat bulan.

Bahkan, pada panen perdana, peluang meraih keuntungan sangat tipis. Karena ongkos produksi jauh lebih besar daripada hasil penjualan. Keuntungan baru bisa didapat pada panen kedua sampai keempat dari setiap keramba. Alasannya, daya tahan kayu yang dipakai untuk keramba maksimal dua tahun. Setelah itu, kayu mulai lapuk dan rusak sehingga perlu diganti.

Untuk mengatasi kebutuhan biaya yang besar dalam pengadaan pakan, Hadinoto pun terjun sebagai pedagang keliling ikan nila. Setiap hari pukul 04.30, dia membeli ikan dari pembudidaya, lalu memasarkan dari rumah ke rumah di sejumlah lokasi perumahan di kota Jambi dan sekitarnya. Dari kegiatan tersebut, dia memperoleh penghasilan bersih rata-rata Rp 50.000 per hari.

Melihat potensi yang besar, Hadinoto berambisi ingin meraih sukses yang lebih besar dari usaha budidaya ikan air tawar. Terus terang, saya ingin setiap bulan menebarkan bibit ikan dalam 10 keramba. Itu berarti keuntungan bersih yang diperoleh minimal Rp 10 juta per bulan. Tetapi, itu hanya bisa diwujudkan kalau ada dukungan modal usaha dari bank. Sejauh ini bank tak tertarik dengan kredit usaha perikanan budidaya karena masyarakat kecil seperti kami tak punya barang sebagai jaminan. Itu yang sangat disesalkan, kata Hadinoto.

Melihat antusiasme masyarakat Pematang Jering membudidayakan ikan air tawar begitu tinggi, Hadinoto bersama sejumlah temannya akhirnya memelopori pembentukan kelompok pembudidaya perikanan yang diberi nama Mina Mandiri. Kelompok itu kini beranggotakan 150 orang dengan 970 keramba. Mereka umumnya korban PHK dari perusahaan perkayuan. Ikan yang dibudidayakan nila, patin siam, dan patin jambal, dengan total volume produksi tiga ton per hari.

Sumber: KCm

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s