“Pusaka Rumah Tangga” Dari Cileunyi

Langseng adalah salah satu alat yang pada umumnya digunakan untuk menanak nasi. Untuk ibu rumah tangga kata langseng sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Salah satu pelopor pembuatan langseng di Desa Cileunyi Kulon, Kabupaten Bandung adalah Ayi Rahman (50 tahun). Usaha pembuatan langseng ini ia rintis mulai tahun 1978, yang ilmunya di dapat dari daerah Garut.

Pertama kali dalam usahanya bahan pembuatan langseng berasal dari tembaga, tapi kini telah diganti dengan alumunium karena harga tembaga yang terlalu mahal dan jarang tersedia.

Semenjak krisis moneter melanda bangsa Indonesia ini usahanya benar-benar terpukul bahkan sempat berhenti. Akan tetapi setelah pemerintah menggulirkan program dana jaring pengaman sosial (JPS) yang diperuntukkan buat usaha kecil menengah dan desa tempat ia tinggal menerima dana tersebut, maka usahanya mulai dibangkitkan kembali.

Pada awalnya masyarakat sekitar belum ada yang bisa membuat langseng, karena dana JPS bukan untuk satu orang perajin, maka masyarakat sekitar diajarinya cara membuat langseng itu. Hingga sekarang sudah ada 80-an perajin langseng di desanya.

Sebelum krisis, bahan pembuatan langseng ia beli dari daerah Cilegon. Sekarang, hal itu sudah tak bisa lagi ia beli karena sudah ditangani bersama aparat desanya yang memegang dana JPS dengan harga Rp 8.700 per kilogram. Padahal bila dari tempatnya langsung harganya hanya Rp 7.700 per kilogram. Berarti dalam 1 kg-nya, instansi di desa itu mendapat keuntungan Rp 1.000. Sedangkan dalam satu bulan ia bisa menghabiskan bahan 5-6 ton lembaran koil. Atau modal sekitar Rp 50 juta per bulannya.

Sekarang ia memiliki empat karyawan yang sistem kerjanya dilakukan secara borongan. Apabila setiap karyawan dapat menyelesaikan satu set (isi tiga langseng dengan ukuran kecil, sedang, dan besar) maka karyawan mendapat upah Rp 3.500. Sedangkan dalam satu hari empat karyawan bisa menyelesaikan 40 set sehingga apabila dirata-ratakan penghasilan satu karyawan sehari bisa mencapai Rp 35.000 atau Rp 1.050.000 per bulan. Jumlah ini saja jelas tak sedikit.

Produk langseng ini mempunyai merek “Pusaka Rumah Tangga”. Wilayah pemasarannya sudah mencapai seluruh kawasan Indonesia. Pemasaran untuk daerah Aceh saja bisa sampai dua truk per bulan, sedangkan Irian Jaya satu kontainer per tiga bulan. Dalam waktu satu bulan home industry langseng ini bisa menyelesaikan 1.000 set dengan harga satu set Rp 50.000. Tetapi bila diecer untuk ukuran kecil seharga Rp 15.000, ukuran sedang Rp 20.000, sedangkan yang besar Rp 30.000. Jadi, ada keuntungan Rp 15.000 bila kita membeli satu set secara langsung jika dibandingkan dengan membeli secara eceran.

Dalam bidang pemasaran, khususnya untuk Pulau Jawa, ada tiga tim khusus. Satu tim membawahi 10 sampai 15 tenaga pemasaran untuk terjun ke lapangan dengan menawarkan harga yang bervariasi tergantung jauh dekatnya dari lokasi. Perajin ‘Pusaka Rumah Tangga’ ini mengatakan bahwa dalam hal pemasaran belum pernah sedikit pun mengalami kesulitan.

Tetapi, dengan semakin banyaknya perajin di daerahnya otomatis terjadi persaingan dalam hal penjualan. Bila disimak lebih dalam, hal ini terjadi karena belum adanya koordinasi soal penjualan. Untuk itulah tampaknya perlu ada wadah (semacam koperasi) untuk para perajin sehingga dalam pemasaran dan penjualan bisa menjadi kian mudah dan ada standar harga yang seragam bagi sesama perajin langseng.syk/roj/mns/mqp

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s